Cara Mudah Beternak Murai Batu

Beternak burung murai batu bisa dibilang gampang-gampang susah. Memang banyak peternak yang berhasil menangkarkan burung bersuara merdu ini, namun tidak sedikit pula peternak yang gagal dan akhirnya patah semangat. Sebenarnya dalam beternak murai batu tergantung pada niat, ketelatenan, keuletan, dan tentunya wawasan yang cukup. Tak sekedar wawasan tentang memelihara burung, tapi juga memahami karakteristik si murai batu. Murai batu memiliki sifat yang sangat sensitif. Kesalahan sedikit saja akan berdampak besar terhadap produktifitas murai batu. Oleh karena itu dalam beternak burung murai batu harus memperhatikan setiap aspek, seperti kandang ternak, pemilihan induk, proses penjodohan, parlakuan saat mengeram, dan perawatan anakan. Untuk lebih jelasnya, simak cara mudah berikut ini :

 

Kandang ternak:

sirkulasi udara dan pencahayaan yang cukup
  • Ukuran kandang:

Panjang: ± 180 cm

Lebar: ± 100 cm

Tinggi: ± 200 cm

 

  • Tempat makan:

 

Sediakan tempat minum dan tempat makan untuk masing-masing jenis pakan agar kebersihan dan kualitas pakan tetap terjaga.

 

Sediakan tempat minum dan tempat makan untuk masing-masing jenis pakan agar kebersihan dan kualitas pakan tetap terjaga

 

  • Gelodok sarang:

 

gelodok sarang ditempatkan di bagian belakang kandang
  • Sirkulasi udara dan pencahayaan yang cukup
  • Lokasi kandang disarankan berada di tempat yang tenang dan aman dari predator.

 

Seleksi induk:

Jantan:

  • Sehat
  • Umur diatas 1 tahun
  • Body besar dan proporsional
  • Ekor panjang lengkung
  • Paruh tebal
  • Mata tajam, besar menonjol
  • Kepala cepak
  • Suara kristal tajam
  • Powerfull
  • Mental fighter
  • Mantan juara

Betina:

  • Sehat
  • Umur ± 10 bulan
  • Body proporsional
  • Suara nyaring
  • Powerfull
  • Sifat dasar fighter

Proses penjodohan:

  • Dekatkan / tempel, sangkar jantan & betina.

Untuk perngenalan awal dengan pasangannya, kedua sangkar calon induk saling ditempel semala beberapa hari. Amati tingkah laku keseharian burung. Kalau saling respon, 1 minggu berikutnya lepaskan betina dalam kandang.

  • Masukkan pejantan dalam kandang tetapi pejantan masih dalam sangkar.

Amati reaksi selanjutnya bila sering mendekat dan terdengar suara “cik cik cik” di selingi suara kicauan berarti burung ada harapan berjodoh. Kalau belum bereaksi tunggu beberapa hari kedepan. Mungkin burung masih perlu adaptasi dengan lingkungan kandang.

  • Buka alas sangkar (jantan)

Setelah keduanya siap, dengan ditandai betina mulai ngeper (mengepak-ngepakkan sayap) sambil bunyi “cik cik cik”, coba buka alas sangkar (jantan) agar pejantan bisa menerobos kebawah lepas dari sangkarnya. Pilih waktu melepas jantan, usahakan di sore hari ± pukul 17.00 dengan harapan seandainya burung terjadi saling serang bisa terselamatkan dengan gelapnya malam. Terus pantau bila tidak terlalu membahayakan betina, biar saja. Kalau pejantan melakukan serangan yang membabi buta, pisahkan terlebih dahulu. Ulang proses dari awal.

Biasanya kalau calon induk keduanya sudah siap, tidak lama kemudian akan saling mengarah ke gelodok sambil memanggil-manggil pasangannya. Kalau sudah demikian, perlu menambah porsi extra fooding (kroto & jangkrik).

  • Sediakan daun cemara kering di lantai kandang.

Hal ini bertujuan untuk menyiapkan bahan sarang nantinya. Sarang akan dibuat sendiri oleh murai betina, terkadang pejantan juga ikut membantu. Bila sarang dirasa cukup, biasanya tak selang lama induk murai sudah mulai bertelur. Kalau sudah pada tahap ini, berarti proses penjodohan bisa dikatakan berhasil.

 

 

Perlakuan saat induk mengeram :

Indukan yang sedang mengeram jangan sering diusik dan menu harian mulai dinormalkan kembali untuk menghindari OB (Over Birahi).

Pada pengeraman di hari ke-10 induk perlu mendapatkan asupan gizi lebih banyak. Oleh karena itu, pemberian extra fooding (kroto & jangkrik) porsinya perlu ditambah. Hal ini bertujuan untuk mengisi susu tembolok sebagai persiapan meloloh anakan nantinya.

Telur murai biasanya akan menetas saat pengeraman hari ke-12. Untuk mengecek telur tidak perlu dilihat secara langsung, cukup dengan mengamati indukan saat diberi makan kroto. Bila indukan membawa lolohan (kroto) ke dalam glodok, maka bisa dipastikan telur sudah menetas. Kalau sudah menetas, maka yang perlu disiapkan yaitu kroto yang selalu ada ditempat makan, karena bahan lolohan diusia anakan baru 1-3 hari belum diloloh jangkrik oleh induknya. Pada umur tersebut, usahakan stok kroto dalam tempat makan jangan sampai telat, karena bisa berdampak anakan dibuang oleh induknya. Ini sesuai naluri induk untuk melindungi anaknya.

Bila dihari ke-12 pengeraman belum menetas, jangan tergesa-gesa mengambil telurnya. Mungkin bisa jadi anda salah menandai hari pertama mengeram. Kalau sudah memenuhi hitungan hari ke-14 sampai 15 belum juga menetas, berarti kemungkinan besar memang gagal. Kemungkinan ini bisa terjadi karena perkawinan belum sempurna dan burung masih butuh beradaptasi dengan kandang.

 

Penyapihan (memanen anakan) & perawatan anakan:

  • Siapkan inkubator (ruang penghangat)

Sebelum memanen anakan, sebaiknya siapkan terlebih dahulu inkubator untuk tempat pembebesaran anakan. Atur suhu dan kelembapan ruang inkubator.

  • Ambil anakan disertai sarangnya

Memasuki usia 7-8 hari anakan sudah bisa disapih. Usahakan saat pengambilan anakan disertai sarangnya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kontak langsung antara anakan dengan tangan kita. Perlakuan ini sangat penting karena bila mana terjadi kontak langsung dengan tangan kita akan berdampak buruk pada anakan, mengingat kondisi tulang kaki burung diusia tersebut sangat lemah. Dampak buruk yang biasanya kerap terjadi dikemudian hari adalah kelumpuhan anakan pada usia dibawah 20 hari. Sebetulnya pekerjaan paling sulit dimulai disini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Menyuapi (meloloh) dengan kroto segar

Di hari pertama, lolohan sepenuhnya menggunakan kroto segar dan dianjurkan campur vitamin dan kalsium penguat tulang dengan dosis rendah. Jadwal memberi makan anak burung (meloloh) disesuaikan dengan kebutuhan burung ± 2 jam sekali dengan porsi secukupnya.

 

  • Pindahkan ke sangkar gantung

Pada umur 11 hari pindahkan ke sangkar gantung yang diberi lampu, daun cemara kering sebagai alas, dan dikerodong. Ini berguna bagi anak burung untuk beradaptasi dengan sangkar gantung. Agar nantinya waktu anak burung belajar terbang tidak panik (nggelabak) saat berada di sangkar gantung.

  • Pengenalan foer

Hari berikutnya yaitu ketika anakan berusia 14 hari. Pada usia tersebut biasanya anak burung sudah belajar naik pangkringan dan saatnya pemasangan ring. Pengenalan foer juga perlu dilakukan pada anakan. Pengenalan foer dilakukan dengan cara mencampur foer, kroto, dan air secukupnya. Adonan foer dan kroto tersebut diberikan cukup 1x sehari.

  • Pemasangan ring

Ring sebetulnya bisa dipasang lebih awal yaitu pada usia 10 hari, namun karena kondisi kaki burung masih lemah, maka disarankan pemasangan ring dilakukan pada usia 14 hari. Ring dipasang dengan hati-hati, kaki burung yang akan dipasang ring terlebih dahulu dioles dengan pelumas/handbody.

  • Ajari makan sendiri

Memasuki usia 22 anak burung biasanya sudah mulai belajar makan sendiri. Maka kurangi porsi lolohan agar burung terangsang untuk mencoba makan sendiri. Jangan lupa, siapkan kroto dan sedikit foer kering di tempat makan. Kroto dan foer kering dicampur rata dengan cara ditekan-tekan agar pada saat anakan memakan kroto, foer kering pun ikut tertelan. Maka dengan tak sadar burung sudah merasakan foer kering. Sehingga di hari-hari berikutnya burung sudah terbiasa makan foer kering.  Menginjak usia 1 bulan, burung sudah benar benar mandiri dan sudah bisa  makan foer kering.

 

 

 

Demikian sedikit pengalaman ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat oleh kita semua. Namun, kita sebagai manusia biasa tidaklah sempurna, maka kritik dan saran sangat kita harapkan untuk penyempurnaan.

Sekian dan terimakasih

Selamat mencoba dan semoga berhasil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge