
Amerika Serikat secara resmi memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Senin ini. Langkah agresif ini diambil setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran gagal membuka kembali Selat Hormuz dan terus mempertahankan ambisi nuklirnya. Meskipun AS menjamin tidak akan menghambat kapal dari negara lain yang melintasi selat tersebut, tekanan terhadap ekonomi Tehran kini berada pada titik kritis.
Upaya damai dalam negosiasi di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Presiden Trump secara lugas menyatakan tidak peduli apakah Tehran akan kembali ke meja perundingan atau tidak, mengingat ketidakinginan Iran untuk meninggalkan program senjata nuklirnya. Di sisi lain, Iran mengklaim bahwa mereka hampir mencapai kesepakatan namun terhambat oleh sikap ‘maksimalis’ pihak Amerika Serikat.
Pasar energi bereaksi cepat terhadap eskalasi ini dengan lonjakan harga minyak Brent yang kembali menembus angka $100 per barel. Ketidakpastian pasokan di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia ini memicu volatilitas tinggi, yang berisiko memperparah inflasi global dan menghambat rencana penurunan suku bunga oleh bank-bank sentral dunia.