Tragedi Hawker Sidley Trident: Inovasi Canggih Inggris yang ‘Dibunuh’ Oleh Pesanan Pelanggan
Dunia penerbangan mengenal Hawker Sidley Trident (DH121) sebagai pelopor teknologi. Namun, sejarah mencatatnya sebagai pengingat pahit tentang bagaimana riset pasar yang salah dan intervensi klien dapat menghancurkan potensi sebuah mahakarya. Inilah kisah jet trijet pertama di dunia yang harus kalah telak dari Boeing 727.

Dilema Antara Turboprop dan Era Jet
Pada awal 1950-an, British European Airways (BEA) berada di puncak kesuksesan berkat Vickers Viscount. Saat dunia mulai beralih ke mesin jet murni melalui pesawat seperti Sud Aviation Caravelle, manajemen BEA justru masih skeptis terhadap nilai ekonomis mesin jet.
Baru pada akhir 1956, pimpinan BEA menyadari bahwa mereka membutuhkan jet jarak pendek untuk tetap kompetitif. Mereka merilis spesifikasi yang kemudian dijawab oleh De Havilland dengan rancangan DH121.
Inovasi DH121 Sang Pelopor Trijet
DH121 dirancang untuk menjadi pesawat luar biasa. Dengan tiga mesin di bagian belakang (konfigurasi trijet), pesawat ini menawarkan keseimbangan antara efisiensi bahan bakar dan keamanan saat lepas landas. Beberapa fitur revolusionernya antara lain
- Sistem Autoland Pesawat sipil pertama yang mampu mendarat otomatis dalam kondisi jarak pandang nol.
- Redundansi Tiga Lapis Tiga sistem hidrolik independen untuk keamanan maksimal.
- Kecepatan Tinggi Mampu melaju hingga Mach 0.88, salah satu yang tercepat di zamannya.
Kesalahan Strategis Mengecilkan Potensi Demi Satu Klien
Tragedi komersial Trident dimulai saat BEA meminta De Havilland memperkecil ukuran pesawat karena resesi singkat. Meskipun riset pasar menunjukkan maskapai dunia menginginkan pesawat yang lebih besar, De Havilland terpaksa mengikuti kemauan BEA.
Hasilnya? Kapasitas penumpang dipangkas dari 111 menjadi hanya sekitar 75-80 orang, dan mesin Medway yang kuat diganti dengan Rolls-Royce Spey yang lebih kecil. Di saat yang sama, Boeing meluncurkan 727 dengan spesifikasi yang sangat mirip dengan rancangan asli DH121 yang ditolak BEA.
Hasil penjualannya sangat jomplang Boeing 727 terjual lebih dari 1.000 unit, sementara Trident hanya terjual 117 unit.
Warisan yang Tak Terlupakan
Meskipun gagal secara komersial, Trident adalah “pesawatnya para pilot”. Pesawat ini dikenal sangat responsif dan jujur di udara. Teknologi sayapnya bahkan menjadi dasar struktural bagi Airbus A300 di masa depan.
Trident resmi pensiun dari British Airways pada tahun 1985, namun jasanya dalam mempelopori pendaratan otomatis (automatic landing) tetap dirasakan oleh jutaan penumpang pesawat modern hingga hari ini.